Dari Polisi ke Politisi (Bag.16) Haripun

Dari Polisi ke Politisi (Bag.16)  Haripun

PESSEL-Haripun berganti. Berputar dengan cepat. Tak terasa hampir 2 pekan di Surabaya. 

Ia kunjungi beberapa orang Padang. Sebagai anak muda yang separuh umurnya sudah pergi meninggalkan kampung. Tentu banyak yang perlu diisi.

Ia sadar, dirantau orang berpandai-pandai. Nasehat bisa dipungut dari mana saja. Alam takambang jadi guru.

Ia memang hampir 15 tahun meninggalkan kampung. Tapi tabiat kampung tak pernah tinggal.

Tata krama, kesopanan dan adat yang dipakainya jelas lelaki Minang. Tak beragi kain putih. 

Makanya Dokter Hanafi tak yakin Hendrajoni seperti yang dituduhkan.  
Beberapa tokoh Minang yang ada di Surabaya ia jumpai, sekedar mengisi baterai hidup. Tak soal harta, tapi soal harga diri.

Ujian tulis juga sudah dilalui dengan baik dan hasilnya juga memuaskan.

Bahan-bahan dikirim biro personalia ke Mabes Polri. Ia bersyukur kalau tak ada aral melintang ia lulus dan mengikuti pendidikan di Sekolah Calon Perwira.

Berselang waktu seseorang mengabarkannya lulus tapi ada syarat yang hilang.

Akhirnya, berkat bantuan komandan berkas yang tercecer dilengkapi dan Hendrajoni diperintahkan menghadap langsung ke Jakarta.

(bersambung...)